Translate

Minggu, 19 Mei 2013

Design Grafis

Desain Grafis berasal dari 2 buah kata yaitu Desain dan Grafis , kata Desain berarti proses atau perbuatan dengan mengatur segala sesuatu sebelum bertindak atau merancang , sedangkan Grafis adalah titik atau garis yang berhubungan dengan cetak mencetak . Jadi dengan demikian Desain Grafis adalah kombinasi kompleks antara kata-kata , gambar , angka , grafik , foto dan ilustrasi yang membutuhkan pemikiran khusus dari seorang individu yang biasa menggabungkan elemen-elemen ini , sehingga mereka dapat menghasilkan sesuatu yang khusus atau sangat berguna dalam bidang gambar .
Desain Grafis adalah cabang ilmu dari seni Desain yang dalam perkembangannya Desain Grafis dibantu oleh komputer dalam mendesain sebuah object .
Desain biasa diterjemahkan sebagai seni terapan, arsitektur, dan berbagai pencapaian kreatif lainnya. Dalam sebuah kalimat, kata “desain” bisa digunakan baik sebagai kata benda maupun kata kerja. Sebagai kata kerja, “desain” memiliki arti “proses untuk membuat dan menciptakan obyek baru”. Sebagai kata benda, “desain” digunakan untuk menyebut hasil akhir dari sebuah proses kreatif, baik itu berwujud sebuah rencana, proposal, atau berbentuk obyek nyata.
Proses desain pada umumnya memperhitungkan aspek fungsi, estetik dan berbagai macam aspek lainnya, yang biasanya datanya didapatkan dari riset, pemikiran, brainstorming, maupun dari desain yang sudah ada sebelumnya. Akhir-akhir ini, proses (secara umum) juga dianggap sebagai produk dari desain, sehingga muncul istilah “perancangan proses”.
Grafika adalah segala cara pengungkapan dan perwujudan dalam bentuk huruf, tanda, dan gambar yang diperbanyak melalui proses percetakan guna disampaikan kepada khalayak. Contohnya adalah: foto, gambar/drawing, Line Art, grafik, diagram, tipografi, angka, simbol, desain geometris, peta, gambar teknik, dan lain-lain. Seringkali dalam bentuk kombinasi teks, ilustrasi, dan warna.
Dalam bahasa Indonesia, kata “grafis” sering dikaitkan dengan seni grafis (printmaking) dan desain grafis atau desain komunikasi visual.
Desain grafis adalah suatu bentuk komunikasi visual yang menggunakan gambar untuk menyampaikan informasi atau pesan seefektif mungkin. Dalam disain grafis, teks juga dianggap gambar karena merupakan hasil abstraksi simbol-simbol yang bisa dibunyikan. disain grafis diterapkan dalam disain komunikasi dan fine art. Seperti jenis disain lainnya, disain grafis dapat merujuk kepada proses pembuatan, metoda merancang, produk yang dihasilkan (rancangan), atau pun disiplin ilmu yang digunakan (disain).
Seni disain grafis mencakup kemampuan kognitif dan keterampilan visual, termasuk di dalamnya tipografi, ilustrasi, fotografi, pengolahan gambar, dan tata letak.
Perancang grafis atau sering disebut dengan desainer Grafis (bahasa Inggris: Graphic Designer) adalah profesi yang menciptakan ilustrasi, tipografifotografi, atau grafis motion. Seorang desainer grafis menciptakan karya untuk penerbit, media cetak dan elektronik, seperti brosur dan mengiklankan produk. Mereka bertanggung jawab untuk sebuah tampilan agar tampak menarik, yang bisa diaplikasikan dalam berbagai bentuk materi promosi yang berkaitan dengan produk dan publik.
Perancang Grafis bertugas untuk menyampaikan sebuah informasi yang diinginkan oleh produk / klien dalam bentuk desain yang menarik. Seorang Desainer harus memiliki minimal 7 ( tujuh ) Dimensi Keilmuan yaitu :
  1. Wawasan Teknologi
  2. Wawasan Sains
  3. Wawasan Seni
  4. Wawasan Sosial Dan Budaya
  5. Wawasan Filsafat Dan Etika
    Point satu sampai lima digunakan untuk mengetahui cakupan hasil karya yang dituju sesuai dengan target tertentu.
  6. Kemampuan olah nirmana
    Dipakai untuk membuat hasil karya grafis yang menarik sekaligus mempunyai fungsi dan manfaat yang sesuai.
  7. Software Desain Grafis
    Digunakan untuk menerapkan kreasi ide grafis pada media elektronik sehingga dapat dibuat massal atau untuk kebutuhan krusial lainnya.


PENGERTIAN MENURUT PARA AHLI

Menurut Suyanto
desain grafis didefinisikan sebagai ” aplikasi dari keterampilan seni dan komunikasi untuk kebutuhan bisnis dan industri“. Aplikasi-aplikasi ini dapat meliputi periklanan dan penjualan produk, menciptakan identitas visual untuk institusi, produk dan perusahaan, dan lingkungan grafis, desain informasi, dan secara visual menyempurnakan pesan dalam publikasi.
Menurut Jessica Helfand
desain grafis sebagai kombinasi kompleks kata-kata dan gambar, angka-angka dan grafik, foto-foto dan ilustrasi yang membutuhkan pemikiran khusus dari seorang individu yang bisa menggabungkan elemen-eleman ini, sehingga mereka dapat menghasilkan sesuatu yang khusus, sangat berguna, mengejutkan atau subversif atau sesuatu yang mudah diingat.
Menurut Danton Sihombing
desain grafis mempekerjakan berbagai elemen seperti marka, simbol, uraian verbal yang divisualisasikan lewat tipografi dan gambar baik dengan teknik fotografi ataupun ilustrasi. Elemen-elemen tersebut diterapkan dalam dua fungsi, sebagai perangkat visual dan perangkat komunikasi.
Menurut Michael Kroeger
Visual Communication (komunikasi visual) adalah latihan teori dan konsep-konsep melalui terma-terma visual dengan menggunakan warna, bentuk, garis dan penjajaran (juxtaposition).
Warren dalam Suyanto memaknai desain grafis sebagai suatu terjemahan dari ide dan tempat ke dalam beberapa jenis urutan yang struktural dan visual.
Menurut Blanchard
desain grafis sebagai suatu seni komunikatif yang berhubungan dengan industri, seni dan proses dalam menghasilkan gambaran visual pada segala permukaan.
“ Secara umum pengertian dari desain grafis adalah salah satu bentuk seni lukis (gambar) terapan yang memberikan kebebasan kepada sang desainer (perancang) untuk memilih, menciptakan, atau mengatur elemen rupa seperti ilustrasi, foto, tulisan, dan garis di atas suatu permukaan dengan tujuan untuk diproduksi dan dikomunikasikan sebagai sebuah pesan. Gambar maupun tanda yang digunakan bisa berupa tipografi atau media lainnya.Desain grafis umumnya diterapkan dalam dunia periklanan, packaging, perfilman, dan lain-lain. “
sumber : http://www.ahlidesain.com/pengertian-desain-grafis.html
http://desain.getart.web.id/definisi-desain-grafis-menurut-para-ahli.htm

Jumat, 10 Mei 2013

Perfeksionis



Perfeksionisme adalah keyakinan bahwa seseorang harus menjadi sempurna, mencapai kondisi terbaik pada aspek fisik ataupun non-materi. Perfeksionis adalah orang yang memiliki pandangan perfeksionisme.
Pada bentuknya sebagai penyakit, perfeksionisme dapat menyebabkan seseorang memiliki perhatian berlebih terhadap detail suatu hal dan bersifat obsesif-kompulsif , sensitif terhadap kritik, cemas berkepanjangan, keras kepala, berpikir sempit dan suka menunda. Hal-hal yang dapat menghambat keberhasilan dalam hal apapun. Orang yang potensial namun perfeksionis akan terhambat kemampuannya. Hasrat menciptakan produkwebsite atau konten terbaik adalah hal yang perlu, namun seorang perfeksionis akan menemukan banyak rintangan yang sama sekali tidak perlu.
Masalah perfeksionis adalah tindakannya yang cenderung suka menunda-nunda dan akhirnya capek sendiri. Obsesinya akan kesempurnaan menjadi beban pikiran dan meletihkan perasaannya. Orang perfeksionis akan cepat kehabisan energi karena terus cemas tentang bagaimana menyempurnakan website-nya atau berpikir seandainya dulu saya begini atau begitu.
------------------------------


Penelitian Trinity Western University di Kanada mengungkap, seseorang mencoba untuk menjadi sempurna akan mengalami stres mental yang jauh lebih tinggi. "Perfeksionis adalah pribadi yang sangat kritis pada dirinya sendiri. Mereka tidak akan pernah puas dengan apa yang sudah dilakukannya," kata Prem Fry, profesor psikologi dari Trinity Western University, seperti dikutip dari NY Daily News.

Perfeksionisme membuat seseorang memiliki keengganan untuk meminta bantuan orang lain ketika menghadapi masalah. Hal ini terkadang membuatnya makin tertekan, sementara masalah tak kunjung selesai dan bertambah rumit. "Perfeksionisme adalah kebaikan yang harus dipuji. Tapi di luar batas tertentu, hal itu bisa menjadi bumerang dan penghalang," kata Fry. 
------------------------------

Perfeksionis, boleh dikatakan suatu sifat atau problem kejiwaan dalam diri manusia yang hampir selalu memiliki kesempurnaan. Bagi Anda yang memiliki sifat atau perilaku perfeksionis, terdapat beberapa kelebihan dan kekurangan yang mungkin belum Anda ketahui. Berikut ciri-ciri orang perfeksionis :
  • Selalu bekerja dengan sepenuh hati dan totalitas
  • Berambisi untuk mewujudkan apa yang mereka inginkan
  • Cenderung memaksakan diri untuk melakukan segalanya, walaupun sebenarnya sudah di luar batas kemampuannya
  • Mudah sekali kecewa, jika ada satu atau sedikit kekurangan saja, yang walaupun di mata orang lain biasa saja
  • Cenderung sulit untuk rela mendelegasikan tugas atau pekerjaannya kepada orang lain
  • Cenderung tidak mudah percaya atau terkadang meremehkan kemampuan orang lain
  • Mudah emosi dan sering egois
Sifat perfeksionis tidak selalu mengerjakan semuanya dengan sempurna dan juga bukanlah hal yang jelek,  namun mungkin bisa sedikit dikurangi atau dikontrol agar tidak sampai merugikan orang lain. Untuk mengontrol sifat perfeksionis, mungkin Anda dapat melakukan hal berikut ini:
  • Refreshing dan lebih santai sehingga setiap masalah tidak selalu harus dihadapi dengan serius dan bermuka tegang. Anda bisa berbagi dengan kawan atau bersenda gurau, melontarkan humor ringan ketika Anda bergaul dengan orang lain. Atau jika Anda masih terbilang orang sibuk, Anda dapat sedikit bersantai dengan membaca buku humor atau film lucu. Atau mungkin Anda dapat pergi ke luar kota, atau mengikuti kegiatan lainnya di luar rumah.
  • Anda juga dapat bergabung dengan organisasi, perkumpulan anak muda, atau kelompok arisan, dan sebagainya untuk belajar mengenai pembagian kerja dalam kelompok, agar nantinya Anda tidak mudah untuk meremehkan kemampuan orang lain. Anda dapat mulai belajar untuk mempercayai kemampuan seseorang untuk membantu Anda, seperti meyakini kemampuan Anda.
  • Bersikap terbuka, baik saran atau kritikan, dan nasihat yang membangun. Jadikanlah saran dan kritik untuk membangun dan sebagai acuan produktivitas dan semangat kerja Anda, bukan sebagai alasan untuk merendahkan Anda.
Seseorang yang perfeksionis, cenderung untuk menginginkan semuanya berjalan sempurna dan untuk itu mereka harus melakukannya sendiri, dan akan terus berusaha hingga membuatnya tampak sempurna baginya, walaupun menurut orang lain, sudah baik dan masih dalam kondisi yang wajar. Untuk itu, diperlukan usaha yang berkelanjutan agar Anda dapat mengubah sedikit demi sedikit kepribadian perfeksionis, menjadi lebih baik.

Jumat, 01 Maret 2013

Sifat Seseorang Bisa Dipengaruhi Ukuran Otaknya

Ada banyak orang sukses yang kaya raya, namun hanya segelintir yang sudi menyumbangkan uangnya secara sukarela untuk amal atau kemanusiaan. Di sisi lain, banyak juga orang yang tidak kaya raya namun rajin berderma. Kecenderungan ini ternyata tidak melulu dipengaruhi oleh jumlah uang yang dimiliki, melainkan dipengaruhi juga oleh ukuran otak.

Para peneliti dari University of Zurich di Swiss menemukan adanya variasi jumlah materi abu-abu di daerah otak yang berhubungan dengan kekhawatiran dan keputusan moral seseorang. Daerah otak tersebut terletak antara parietalis dan lobus temporal. Orang yang berperilaku altruistik atau gemar menolong memiliki lebih banyak materi abu-abu di daerah ini.

Dalam laporan penelitian yang diterbitkan jurnal Neuron, peneliti meminta 30 orang relawan untuk menjalani scan otak sambil bermain game komputer. Permainan ini mengharuskan relawan membagi uangnya kepada seseorang yang tidak dikenal.

Relawan yang membuat keputusan dermawan seperti memberikan uangnya kepada orang lain meskipun mungkin merugikan diri sendiri ternyata memiliki lebih banyak koneksi saraf di bagian temporoparietal dibandingkan relawan yang lebih egois.

Hasil scan otak juga menunjukkan aktivitas di temporoparietal junction yang terletak di sisi kanan otak. Hal ini terjadi karena setiap orang mencapai batas maksimum pemberian yang bisa diberikan kepada orang lain. Mendeteksi titik maksimal ini memungkinkan peneliti untuk memeringkat kemurahan hati para relawan secara obyektif.

"Struktur temporoparietal junction sangat memprediksi titik awal seseorang untuk melakukan tindakan dermawan ketika aktivitas di wilayah otak lainnya memprediksi berapa banyak kerugian yang bisa dialami akibat tindakannya tersebut. Temuan ini menjelaskan hubungan antara hardware dan software dari perilaku altruistik manusia," kata peneliti, Yosuke Morishima"

Para peneliti mengatakan beberapa orang lebih murah hati dibandingkan orang lain karena memiliki materi abu-abu di temporoparietal junction yang lebih banyak. Banyaknya materi abu-abu ini juga menegaskan bahwa kecenderungan altruistik tidak akan berubah dalam waktu yang singkat. Misalnya, orang baik tidak menjadi kejam dalam waktu semalam.

"Ini adalah penelitian pertama yang menghubungkan anatomi dan aktivasi otak atas perilaku altruisme manusia. Temuan menunjukkan bahwa perkembangan sikap altruisme melalui pelatihan atau praktek-praktek sosial dapat terjadi melalui perubahan struktur otak dan aktivasi saraf yang diidentifikasi dalam penelitian kami," kata peneliti senior, Ernst Fehr.

Peneliti menemukan bahwa potensi sifat altruisme sudah ada di dalam otak, namun pengambilan keputusan dalam kenyataannya tergantung pada konteks dan biaya yang dimiliki setiap orang.

 Referensi : Detik Health.com

Emotional Quotient


Kecerdasan emosi (emotional quotient / EQ) adalah kemampuan untuk merasa. Kunci kecerdasan emosi adalah kejujuran Anda kepada suara hati Anda. Tiga pertanyaan yang selanjutnya kita tanyakan kepada diri kita adalah: Apakah Anda jujur pada diri sendiri? Seberapa halus, dan cermat Anda merasakan perasaan terdalam pada diri Anda? Seberapa sering Anda peduli atau tidak mempedulikannya, saat ia menyeruak keluar dari batin terdalam diri Anda?

Suara hati itulah yang niscayanya menjadi pusat prinsip yang mampu memberi rasa aman, pedoman, kekuatan serta kebijaksanaan.

Covey berpendapat, “Disinilah Anda berurusan dengan visi dan nilai Anda. Disinilah Anda gunakan anugerah Anda –kesadaran diri (self awareness)—untuk memeriksa peta diri Anda, dan jika Anda menghargai prinsip yang benar, maka paradigma Anda sesungguhnya berdasarkan pada prinsip dan kenyataan di mana suara hati berperan sebagai kompasnya”.

Namun demikian, seringkali suara hati ini terbenam jauh di dalam diri kita. Suara hati tidak muncul, karena berbagai sebab, berbagai hal dan berbagai kondisi. Apakah yang menyebabkan itu semua. Pada kesempatan lain, akan dibahas mengenai apa saja belenggu-belenggu yang meredam hadirnya suara hati dalam kehidupan kita.

  Sumber: Ary Ginanjar Agustian dalam buku yang berjudul "Emotional Spiritual Quotient".

Intelligence Quotient


Lebih dari seratus tahun yang lalu, tahun 1905, psikolog berkebangsaan Prancis, Alfred Binet,  menyusun suatu test kecerdasan untuk pertama kalinya. Pada awalnya, Binet me-rancang test kecerdasan untuk mengidentifikasi para pelajar yang membutuhkan bantuan khusus, yatu kecerdasan intelektual. Tes kecerdasan ini  bukan untuk mencari anak-anak berbakat istimewa seperti yang berlangsung di kemudian hari. Lebih jauh lagi, Binet ber-usaha memastikan bahwa anak-anak yang memiliki persoalan dalam perilakunya,  tidak buru-buru dianggap bodoh..

Test yang dikembangkan Binet ini kemudian disusun kembali oleh Lewis Terman, (pro-fesor bidang psikologi-Stanford University). Terman memformulasikan suatu skor nilai yang disebut sebagai IQ (Intelligent Quotient). Skor itu diperoleh dengan cara membagi umur mental seseorang (yang didapat dari test kecerdasan Binet) dengan umur sebenarnya atau umur kronologisnya.
Namun, sejarah membawa metoda ini menyimpang jauh. Tes IQ telah mempengaruhi masyarakat dalam memandang potensi individu. IQ dianggap satu-satunya ukuran kemampuan seseorang dalam menghadapi hidupnya (aspek kecerdasan sebagai problem-solving capacity). IQ  dianggap sebagai satu-satunya atribut kemanusiaan yang paling berharga.
Pandangan ini juga dipengaruhi oleh teori kecerdasan yang dipelopori  “sepupu” Charles Darwin, Francis Galton. Akibatnya, hingga  pada akhir abad ke-19  diyakini bahwa orang-orang yang memiliki atribut kecerdasan ini diposisikan pada jabatan kepemim-pinan atau jabatan strategis lainnya. Ketika itu juga di Eropa dan US, berkembang keyakinan bahwa kecerdasan, diwariskan lewat garis keturunan. Oleh karenanya, orang-orang yang kurang cerdas didorong agar tidak berketurunan. Sungguh mengerikan!
Ironis!. Gagasan baik ini telah membatasi kesempatan banyak orang hanya karena potensinya tidak terukur oleh test IQ. Hal ini melahirkan gelombang gerakan protes dari berbagai kalangan. Gerakan anti-IQ yang paling signifikan terjadi di Inggris sekitar tahun 1960-an. Dan, pada tahun 1971 US Supreme Court memutuskan untuk menghapuskan penggunaan test IQ untuk masalah-masalah perekrutan dan kepegawaian, kecuali dalam kasus-kasus tertentu.
Tak kurang, Dr. Steve Hallam juga protes. Katanya, pendapat bahwa kecerdasan manusia bagaikan angka mati dan diwariskan, adalah tidak tepat. Penelitian  Hallam menunjuk fakta bahwa kecerdasan manusia itu hanya 42% yang dibawa dari lahir, sementara sisanya, 58% merupakan hasil proses belajar.
Cakupan kecerdasan manusia bukan hanya  kecerdasan nalar, matematis dan logis. Makin banyak pembuktian yang mengarah pada fakta bahwa kecerdasan manusia itu bermacam-macam. Buktinya, Michael Jordan dikatakan cerdas selama berhubungan dengan bola basket. Mozart dikatakan cerdas selama berurusan dengan musik.  Mike Tyson dikatakan cerdas selama berhubungan dengan ring tinju. (Dr. Steve Hallam, Creative and leader-ship, Colloquium in Business,  2002).
Yang perlu ditekankan bukanlah pada betapa test IQ itu kurang efektif dalam menyeleksi orang, namun pada betapa tes ini telah membentuk konsepsi diri manusia yang parsial dan reduksionistik. Barangkali akan lain halnya, jika metoda test kecerdasan IQ ini muncul dalam masyarakat  yang mampu memandang potensi manusia secara utuh. Besar kemungkinan gagasan IQ ini akan memberikan kontribusi yang positif.
Meski respon kritis atas kecerdasan berbasis IQ ini telah muncul sejak awal kelahirannya, namun baru satu dekade akhir abad ini kita mengenal suatu rumusan-psikologi populer yang mengemas kontribusi para peneliti sebelumnya dengan cukup baik, yaitu kecerdasan emosi.  
Sumber: http://rahasiaotakjenius.blogspot.com/2013/01/perkembangan-teori-intelligence.html

Aktivitas-Aktivitas Otak Besar




1.Alam mimpi
Jika kita menanyakan soal yang sama pada 10 orang, apa yang menyebabkan kita bermimpi? Mungkin anda akan memperoleh 10 jawaban yang tidak sama. Ini dikarenakan misteri yang belum bisa dipecahkan ilmuwan saat ini.


Teori pertama bahwa melalui rangsangan saraf informasi antar molekul otak besar menjalankan latihan terhadap otak besar selama mimpi berlangsung. Teori lainnya adalah orang-orang bermimpi akan tugas dan perasaan yang tidak sempat diperhatikan lagi, dalam proses demikian bisa membantu kita memperkuat ingatan dan pikiran. Umumnya, ilmuwan setuju dengan pengertian bahwa “mimpi bisa terjadi saat tidur sebentar”.

2.Tidur
Dalam sepanjang hidup manusia sedikitnya menghabiskan ¼ waktunya untuk tidur. Tidur sangat vital bagi keberlangsungan hidup makhluk menyusui, tidur dalam jangka yang terlalu lama dapat menyebabkan kurang sadarkann diri, halusinasi, dan pada akhirnya menyebabkan kematian.

Dua kondisi selama tidur berlangsung yakni masa tidur penuh (aktivitas bola mata melambat), saat demikian aktivitas metabolisme otak melambat; dan masa tidur sebentar (saat demikian bisa bermimpi), saat demikian aktivitas otak sangat dinamis.

Menurut ilmuwan bahwa tidur dalam masa sepenuhnya dapat membuat tubuh kita istirahat, menjaga stamina, seperti tidurnya binatang. Tidur dalam masa sebentar dapat membantu membentuk sesuatu yang diingat, namun, pengertian ini belum dibuktikan.

3.Halusinasi
Diperkirakan sekitar 80% orang yang diamputasi pernah mengalami perasaan tersiksa, stres, keinginan, kehangatan dan lain-lain perasaan. Orang yang mengalami fenomena demikian, selalu merasa anggota tubuh yang dipotong masih eksis.

Sebuah penjelasan berpendapat, daerah saraf yang terpotong membentuk hubungan yang baru dengan sumsum tulang belakang, dimana anggota tubuh yang kurang seolah-olah masih ada, terus mengirim sinyal ke otak besar.

Kemungkinan lainnya, otak besar adalah sebuah “kawat” transmisi, ia mengendalikan tubuh yang cacad bagaikan memperlakukan tubuh yang sempurna tanpa cacad, ini berarti otak besar tetap menyimpan kendali ketika anggota tubuh masih dalam keadaan utuh dan sempurna.

4.Tertawa
Tertawa adalah salah satu perilaku manusia yang paling sulit dimengerti. Saat kita tertawa, ada tiga bagian otak besar kita menjadi dinamis yakni: daerah dalam kekuasaan pikiran, ia membuat Anda mendapatkan banyolan (tertawa); daerah gerakan mendorong otot Anda bergerak; daerah emosi (perasaan) membuat kita menyunggingkan senyuman.

Perintis peneliti humor John Morryer mendapati, suara tawa adalah sebuah reaksi yang sangat menarik terhadap 24 cerita yang menyalahi kebiasaan. Dan pengertian lainya menganggap tawa sebagai sebuah saluran yang mengirimkan informasi “menarik (lucu)” kepada orang lain. Dengan demikian tampak jelas: tertawa membuat perasaan kita lebih baik.

Sumber: http://rahasiaotakjenius.blogspot.com/2013/01/4-aktivitas-otak-besar-yang-unik.html

Otak Kecil (Cerebellum)







Cerebellum (Latin for little brain) adalah wilayah otak yang memainkan peran penting dalam pengendalian motor. Hal ini juga terlibat dalam beberapa fungsi kognitif seperti perhatian dan bahasa, dan mungkin dalam beberapa fungsi emosional seperti mengatur respon takut dan kesenangan.

Otak kecil tidak melakukan gerakan, tapi memberikan kontribusi untuk koordinasi, presisi, dan waktu yang akurat. Ini menerima masukan dari sistem sensorik dan dari bagian lain dari kabel otak dan tulang belakang, dan mengintegrasikan masukan-masukan ke motor tune.

Kerusakan pada otak kecil tidak menyebabkan kelumpuhan, tapi malah menghasilkan gangguan dalam gerakan halus, keseimbangan, postur Dalam hal anatomi, otak kecil memiliki penampilan struktur terpisah yang melekat pada bagian bawah otak, terselip di bawah belahan otak.

Selain peran langsung dalam mengendalikan motor, otak juga diperlukan untuk beberapa jenis motor belajar, yang paling penting yang belajar untuk menyesuaikan diri dengan perubahan dalam hubungan sensorimotor.

Beberapa model teoritis telah dikembangkan untuk menjelaskan kalibrasi sensorimotor dalam hal plastisitas sinaps dalam otak kecil. Kebanyakan dari mereka berasal dari model awal dirumuskan oleh David Marr dan James Albus.

http://neurologi-indonesia.blogspot.com/2011/01/otak-kecil-cerebellum.html